0

“Menikah adalah sunahku. Barangsiapa enggan melaksanakan sunahku, ia bukan termasuk golonganku. Menikahlah, karena sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan seluruh umat. Barangsiapa memiliki kemampuan untuk menikah, menikahlah! Dan, barangsiapa belum mampu, hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah perisai baginya dari berbagai syahwat.” (HR. Ibnu Majah)

Menikah adalah menapak di jalan sunah. Karena kita mengikuti sunah Rasulullah, kita akan mendapatkan pengalaman-pengalaman yang luar biasa.

Dan, karena kita mengikuti sunah manusia yang paling ajaib cintanya, kita akan menemukan surga sebelum surga. Baitijannati, rumahku surgaku. Mencintai pasangan halal kita adalah kebahagiaan yang tiada tara.

Kalau kita ikuti sunah Rasulullah, cinta kita akan menjelma pengorbanan yang indah. Coba deh lihat suami-istri di sekeliling kita.

Seorang suami   yang tatapannya selalu menghangatkan hati sang istri, sukarela memayungi bidadarinya itu, membawakan tasnya, membukakan pintu mobil, atau memakaikan helm untuknya.

Kita mungkin tersenyum melihat foto di atas, sebuah pemandangan indah yang terekam kamera seorangjurnalis di Yaman. Dalam sekejap, ramailah negeri itu. “Cinta memang indah, selalu indah,” kata orang-orang.

Lihatlah sekali lagi. Sang suami menatap penuh cinta kepada istrinya. Senyumnya memberikan ketenangan, tangannya menggenggam hangat.

Di tengah rintik gerimis, sang istri menenteng sepatunya yang rusak sambil memakai sepatu suaminya yang sedikit kebesaran. Sang suami? Jangankan berjalan tanpa alas kaki, menerjang badai pun akan ia tempuh demi istrinya.

Kita tersenyum membayangkan betapa saat itu surga seakan telah membukakan pintu untuk mereka. Keduanya pasti bersyukur telah menjadi bagian dari keindahan hidup pasangannya.

Cinta memang sanggup mengubah kita menjadi orang yang gemar melakukan pengorbanan indah. Empat belas abad yang lalu, Rasulullah mencontohkan hal ini.

Di tempat bernama Saddush Shahba, dalam perjalanan menuju Madinah, seperti yang bisa kita simak dalam hadits Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah yang baru menikah dengan Shafiyyah berboncengan unta dengan istrinya itu.

Sebelum naik ke punggung tunggangannya, beliau dengan penuh perhatian menyelimuti bidadarinya itu dengan sehelai kain. Beliau lalu mempersilakan sang istri naik terlebih dulu. Kemudian, manusia mulia itu merendah di samping unta sambil memberikan lututnya sebagai pijakan bagi sang istri.

Cinta adalah ruh yang menggerakkan kita untuk membuat pasangan kita bahagia. Dalam jenak-jenak waktu yang tak henti berjalan, kita terus mencintainya, menyayanginya, dan melakukan apa saja untuk membuatnya bahagia.

Menjelang tidur dan bangun, ketika pergi dan pulang, saat letih dan segar, sepanjang waktu kita gunakan untuk membuatnya bahagia.

Bibir kita kembali menyunggingkan senyum ketika kita melihat sepasang suami-istri yang makan sepiring berdua, menggigit irisan semangka yang sama, atau seorang suami yang selepas bersantap dengan istrinya lalu memegang tangan kekasihnya itu, membawanya ke dalam mangkuk air, lalu membasuhnya dengan lembut sampai bersih, dan mengeringkannya dengan tisu.

Setelah bersih dan kering, dikecupnya tangan itu dengan penuh mesra. Nggak ada salahnya lho sesekali memperlakukan pasangan seistimewa itu. Itulah surga sebelum surga.

Imam Muslim mengabarkan bahwa ‘Aisyah pernah bercerita tentang betapa romantisnya Rasulullah. “Aku minum. Pada saat itu, aku sedang haid.

Kemudian, aku memberikan minumanku kepada Rasulullah. Beliau lalu meletakkan mulutnya di sisi gelas bekas mulutku, lalu minum…” Dalam cerita lain, ‘Aisyah menuturkan, “Aku pernah menggigit serat serat daging yang masih melekat di tulang, lalu beliau turut menggigitnya dan meletakkan mulutnya di bagian bekas mulutku.”

Di dalam buku saya sebelumnya, Open Your Heart, Follow Your Prophet, ada sebuah cerita tentang suami-istri yang sudah berusia lanjut. Pada kesempatan kali ini, izinkan saya menuliskannya kembali.

Begitulah cinta yang diajarkan Rasulullah. Sebuah kesetiaan. Maka, meski cahaya hatinya, Khadijah, meninggal dunia, bara cinta dalam hati beliau tak pernah padam. Beberapa tahun kemudian, beliau memang menikah lagi.

Tapi, ruang di hati beliau yang sebelumnya dihuni oleh Khadijah tidak pernah diisi oleh istri-istri beliau yang baru. Khadijah tetap tak tergantikan.

Khadijah. Itulah nama yang terus bersemayam di palung hati Rasulullah, bahkan jauh hari setelah wafatnya sang bidadari itu. Pujian untuk Khadijah selalu yang terbaik, hingga terkadang membuat ‘Aisyah cemburu. “Allah tidak menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik…” sabda Rasulullah tentang Khadijah.

”Ia beriman kepadaku ketika orang lain mengingkariku. Ia membenarkanku ketika orang lain mendustakanku. Ia membantuku dengan hartanya ketika orang lain enggan memberikan. Melalui dirinya, Allah menganugerahkan keturunan kepadaku…” (HR. Ahmad).

Menikah adalah meneladani sunah Rasulullah. Dengan mengikuti apa yang menjadi sunah beliau, kehidupan kita insya Allah akan penuh cinta dan kasih sayang. Kebaikan yang ada pada diri dan keluarga kita akan terus dan terus bertambah.

Menghindari diri dari maksiat

Godaan syahwat semakin hari semakin liar. Pria dan wanita seakan bangga mempertontonkan auratnya. Generasi muda benar-benar sulit menjaga diri dari panah-panah setan yang mengundang syahwat. Menjaga pandangan, pendengaran, dan perkataan ibarat menggenggam bara api yang masih menyala. Sulit bukan main. Bagaimana tidak, godaan itu mengepung dari semua sisi.

Saat kita ada di rumah, godaan itu masuk lewat iklan dan program-program televisi. Saat kita membuka notebook atau handphone, godaan itu masuk melalui website dan social media. Tidak sedikit website berita online menyediakan konten pornografi sebagai strategi untuk meningkatkan jumlah pengunjung.

Saat pergi ke kampus atau kantor, godaan itu berupa pakaian teman-teman kita yang seakan kekurangan bahan. Model pakaian yang entah diadopsi dari mana membuat Allah tak mereka pedulikan, teladan Rasul mereka acuhkan, panas tak mereka rasakan, dingin pun pura-pura mereka abaikan. Meski seandainya kita memakai kacamata hitam rangkap dua, tetap saja panah-panah setan itu terlihat di depan mata: di kendaraan umum, jalan-jalan, koridor gedung, dan ruang kelas.

Allah Mahatahu. Tak ada yang lebih tahu tentang diri kita selain Dia. Karenanya, Allah mensyariatkan pernikahan. Salah satu manfaat pernikahan adalah sebagai benteng kita dari perbuatan keji dan hina. Padahal, syariat pernikahan sudah ada sejak zaman dulu, jauh hari ketika kepungan godaan tak sebanyak sekarang. Pernikahan adalah cara yang insya Allah efektif untuk memelihara kita dari kerusakan akhlak.

Syaikh Ibnu Taimiyyah pernah ditanya tentang orang yang terkena panah syahwat. Beliau menjawab, “Mereka yang terkena benda beracun maka untuk mengeluarkannya dan untuk menyembuhkan lukanya adalah dengan memberikan penawar racun. Itu bisa dilakukan dengan beberapa perkara, yang pertama adalah menikah…”

Kenapa menikah bisa menjadi penawar racun syahwat? Yuk, kita dengar apa kata Rasul tentang masalah ini.

“Jika salah seorang dari kalian melihat kecantikan wanita maka hendaklah ia mendatangi (menggauli) istrinya. Sebab, apa yang dimilikinya sama dengan yang dimiliki istrinya.” (HR. Muslim)

Kita pasti menyadari bahwa di usia baligh godaan syahwat adalah godaan yang sangat besar dan sangat sulit kita taklukkan. Karenanya, bisa jadi ada maksiat-maksiat kecil yang berhubungan dengannya yang pernah kita lakukan. Tapi, kita patut bersyukur, sebab kita sadar harus menemukan solusi bagi masalah ini, agar kita tidak terjerembab ke lembah maksiat yang lebih besar.

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian mampu menikah maka menikahlah! Karena, menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih dapat memelihara kemaluan. Dan barangsiapa tidak mampu, hendaklah ia berpuasa, karena puasa dapat menjadi perisai bagi syahwatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Melalui pernikahan, seorang pemuda dan pemudi dapat mengikuti fitrah mereka untuk berkasih sayang, memenuhi kebutuhan akan perhatian dan lembutnya cinta. Melalui pernikahan, keduanya akan berusaha menjalankan tanggung jawab sebagai pasangan, bukan dengan cara yang kotor dan membawa kerusakan.

Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa yang paling sering merusak kualitas agama kita adalah syahwat kemaluan dan nafsu perut. Syahwat kemaluan yang merusak bisa kita hindari dengan cara menikah. Di samping itu, menikah juga berarti membentengi kita dari godaan setan. Karena manfaat ini, menikah sungguh merupakan salah satu jalan untuk menyempurnakan agama kita.

“Barangsiapa dikaruniai seorang istri yang saleha berarti ia telah membantunya menyempurnakan setengah agamanya. Maka, hendaklah ia bertakwa kepada Allah pada setengah yang lainnya.” (HR. Thabrani, Hakim, dan Baihaqi)

Tapi, tunggu dulu! Sepertinya dari tadi kita bicara tentang pria, ya? Yang perempuan pasti merasa begitu. Benar sih, sebab godaan syahwat memang lebih banyak dirasakan oleh para pria. Kalau wanita godaannya beda. Perhatian dan ungkapan kasih sayang lebih sering menggangu kualitas iman mereka. Bahkan, godaan kadang datang dari orang yang kelihatannya saleh dan berakhlak baik. Para moduser maksudnya…

Kamu para wanita pernah mendapat modus-modus seperti itu? Kelihatannya mengajak pada kebaikan atau memberi semangat, eh ternyata ada udang di balik bakwan! Moduser moduser seperti ini banyak lho jumlahnya!

Namanya juga moduser, modus operandinya pasti bermacam, mulai dari menulis whatsapp yang lumayan panjang, “Jalan dakwah yang panjang nan berliku ini

memerlukan nyali para pejuang yang tiada kenal lelah menapaki tanjakan kebenaran. Untukmu yang menerima pesan ini, semoga Allah memberikan keistiqamahan dalam hati dan mempertemukan kita dalam naungan jannah-Nya.”

Kadang, dalam bentuk SMS motivasi, “Tetap istiqamah, Saleha! Selamat berjuang, semoga Allah menyertai!”

Ada juga yang ngetwit, “Alhamdulillah, saya lagi di depan gedung DPR, Ukhti. Doakan kami bisa memperjuangkan aspirasi kita.”

Kalau sudah akut, tengah malam BB tiba-tiba menyala. Sebaris BBM pun diterima, “Jangan lupa salat malam ya! Ingat aku dalam munajatmu…” Gombalisme itu banyak macamnya, Teman.

Pernah nggak dimodus kayak gitu?

Dalam buku Ustaz Fauzil Adhim, Kupinang Engkau dengan Hamdalah, saya membaca pengakuan blak-blakan dari seorang akhwat. “Suatu waktu, saya bertemu dengan beberapa akhwat yang sedih dengan godaan dari sekian ikhwan dalam sekian perjumpaan.”

“Apa jawaban atas masalah ini?” kata akhwat tersebut, “Ada kesamaan dalam jawaban, bahwa ketika seorang akhwat sudah menikah, insya Allah kemungkinan digoda lebih kecil, karena si penggoda akan mikir-mikir karena ia sudah bersuami.”

Akhwat itu kemudian melanjutkan, “Sampai-sampai, ada yang berencana untuk memakai cincin nikah walaupun belum menikah, demi menghindari godaan. Karena, ternyata berkerudung pun masih sering digoda. Sehingga, menikah dipandang dapat digunakan sebagai kerudung keamanaan.”

Begitulah. Pada akhirnya, fitrah untuk berkasih sayang memang perlu kita penuhi. Sebab, kebutuhan untuk mengikat hubungan dengan lawan jenis memang semakin besar. Dan, tergelincir akibat godaan yang datang insya Allah bisa kita hindari lewat pernikahan.


Like it? Share with your friends!

0
fawazid

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *