0

Artikel ini adalah penggalan cerita dalam buku karya Hasanudin Abdurakhman, yang sudah di modifikasi sekian rupi agar berbeda dari buku aslinya. Selamat memabaca

Seorang teman yang mengeluh mengenai anaknya.

“Masak gagal masuk Univesitas Pendidikan Indonesia. Padahal bapak-sama sama-sama berkumpul situ, ”keluhannya.

“Lho, memangnya seleksi bersama masuk perguruan tinggi sudah selesai?”

“belum sih. Ini hasil simulasi atau coba di tempat bimbel dia. ”

“lho, kamu memvonis anakmu berdasarkan hasil try out? Kupikir tadi sudah gagal benar. Artinya masih ada waktu untuk memperbaikinya, kan?”

“iya, sih”

“nah, ketimbang kamu memvonis dia gagal masuk PTN yang kamu inginkan, tidakkah lebih baik memberi dia semangat, mengubah program belajarnya, selagi masih ada waktu?”


Ia terdiam

“ada satu hal lagi. Kenapa dirimu kau jadikan standar untuk anakmu? Apakah kalau bapak ibunya lulusan Univesitas Pendidikan Indonesia, anaknya juga harus begitu?

“ia, dong.”

“apakah anakmu sama dengan kamu? Maksudhnya potensinya, bakatnya, minatnya? Pernahkah mengukur potensi anak? Pernahkah mencari tahu apa minat anakmu?”

“Boleh jadi ia punya potensi yang sangat berbeda dengan kamu. Menyuruh dia mengikuti jalan kamu selain menyiksa dia juga boleh jadi telah membunuh potensi besar yang ia miliki. Ia punya bakat A, tapi akhirnya menjadi B, demi memuaskan keinginan orangtuanya.”

“Tapi aku tidak memaksakan jurusan yang harus dia masuki. Yang penting dia bisa masuk PTN.”

“Belum tentu juga anakmu butuh kuliah.”

“Lho, kok gitu?”

“Memang begitu. Tidak setiap orang harus kuliah. Ada banyak profesi yang tidak memerlukan kuliah. Juga ada banyak profesi yang tidak tersedia kuliahnya di PTN. Mematok target anak harus masuk PTN tertentu itu lebih merupakan gengsi orangtua ketimbang kebutuhan anak.”

“Lha, kamu nggak masalah kalau anakmu nggak kuliah? Bapaknya doktor, kok anaknya nggak kuliah?”

“Sama sekali tidak. Profesor saya di Jepang dulu, anaknya jadi hair stylist . Bapaknya profesor di bidang fisika. Dia tidak mempermasalahkan. Saya juga tidak. Ini jalan saya. Anak saya punya jalan sendiri.”

Ia terdiam lagi.
“Pernah ngobrol sama anakmu, membahas minat dia?”

“Wah, sekarang sudah enggak.”

“Sepertinya kamu nggak akrab sama anakmu.”

“Akrab gimana?”

“Dekat. Apakah anakmu masih mau memeluk dan menciummu?”

Dia tertawa.

“Lho, ini serius. Anak saya biasa memeluk saya, cium saya, tidur di pangkuan saya. Bahkan kadang-kadang duduk di pangkuan saya. Padahal dia sudah gadis remaja. Ia terbuka bicara sama saya, termasuk soal pribadi, misalnya soal cowok yang dia suka.”

“Wah, itu enggak mungkin.”

“Kalau anakmu tidak nyaman membahas sesuatu denganmu, lalu dengan siapa dia membahasnya? Dengan teman, atau orang lain. Maka secara perlahan hubungan kepercayaan antara anak dan orangtua hilang. Anak lebih percaya pada orang lain. Pada titik itu kita tak lagi kenal siapa anak kita. Kamu galak sama anakmu?”

“Ya, sering emosi juga.”

“Itulah. Kita sering sulit membedakan antara tegas dengan galak. Kita harus tegas, bukan galak. Kita harus menegur, bukan memarahi. Apa bedanya? Emosi. Galak, marah, sering kali merupakan luapan emosi. Itu bukan pendidikan. Mendidik itu memberikan arahan dengan tegas, bila diperlukan. Tujuannya jelas, mengarahkan. Kalau memarahi, itu sekadar untuk melepaskan amarah kita saja.”

Begitulah. Ada begitu banyak momen interaksi kita dengan anak yang terlewatkan begitu saja, tanpa kita isi dengan proses pendidikan. Kita mengira kita sudah mendidik anak, tapi nyatanya tidak. Mungkin kita justru lebih sering hadir sebagai sosok pengganggu dan perusak ketimbang pendidik.

Janganlah melarang kehendak atau pilihan anak, takdir sudah ditentukan anak biarkan anak yang memilih dan mencari jati dirinya.

#sbmptnui #sbmptnlogin #sbmptnsoshum #sbmptn2020


Like it? Share with your friends!

0
fawazid

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *