0

Suami terbaik itu..

“orang yang imannya paling sempurna di antara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Muhammad bin Ali Asy-Syaukani menjelaskan hadits di atas.

“Dalam hadits ini, terdapat peringatan bahwa orang yang paling tinggi kebaikannya dan yang paling berhak untuk disifati dengan kebaikan adalah orang yang paling baik akhlaknya terhadap istrinya. Karena, istri adalah orang yang berhak untuk mendapatkan perlakuan yang mulia, akhlak yang baik, perbuatan yang baik, pemberian manfaat dan penolakan mudharat.

jika seorang pria bersikap demikian maka ia adalah orang yang paling baik, namun jika sebaliknya maka ia telah berada di sisi yang lain, yaitu sisi keburukan. Banyak orang yang terjatuh ke dalam kesalahan ini.

Engkau melihat seorang pria yangjika bertemu dengan istrinya maka ia adalah orang yang paling buruk akhlaknya, pelit, dan sedikit kebaikannya. Namun, jika ia bertemu dengan orang lain, ia akan bersikap lemah lembut, berakhlak mulia, hilang rasa pelitnya, dan banyak kebaikan yang dilakukannya. Tak diragukan lagi, barangsiapa demikian akhlaknya, ia telah terhalang dari petunjuk Allah dan telah menyimpang dari jalan yang lurus. Kita memohon keselamatan kepada Allah.”

Begitulah, Teman. Kita layak disebut paling baik kalau kita bisa memperlakukan istri dengan sebaik-baiknya. Kalau saya belum punya istri, Om? Gampang, cari istri dulu!

Karena kita ingin menjadi yang terbaik, kita harus berusaha untuk selalu tersenyum. Sering-seringlah mengucapkan terima kasih kepada istri. Kalau salah jangan sungkan meminta maaf. Bicaralah dengan kalimat yang santun. Berikan pujian yang bisa memberi semangat. Lakukan yang terbaik untuk membahagiakan hatinya. Semuanya insya Allah bernilai kebaikan di mata Allah. Bahkan, bercanda dengannya akan dinilai sebagai kebaikan di sisi-Nya.

Rasulullah bersabda, “Segala sesuatu selain zikrullah adalah permainan dan kesia-siaan, kecuali empat hal, yaitu seorang suami yang mencandai istrinya, seseorang yang melatih kudanya, seseorang yang berjalan menuju dua sasaran (memanah), dan seseorang yang berlatih renang.” (HR. An Nasa`i)

Dalam Surat An-Nisa`, Allah berpesan, “Bergaullah dengan istri-istri kalian secara patut. Bila kalian tidak menyukai mereka maka bersabarlah, karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahalAllah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa`: 19)

Karenanya, BUAT para calon suami, bersabarlah! Jangan membenci istrimu, meski ada satu atau dua sikap dan ucapannya yang membuatmu tidak senang. Kalau masakan istrimu terlalu asin, jangan lantas membencinya. Bukankah senyumannya selalu meneduhkanmu? Bukankah dia telah menjaga dan merawat anak-anakmu? Jika ada satu atau dua sifat istrimu yang kurang pas, jangan pula membencinya. Bukankah banyak kebaikan-kebaikan yang sudah diberikannya untukmu? Ingat-ingatlah saat ta’aruf dulu, apa sifat dan kebaikannya yang membuatmu memilihnya? Bukankah itu lebih besar nilainya dibanding secuil sifat yang tak kau sukai?

Engkau para calon suami, Rasulullah juga berpesan untukmu, “Janganlah seorang Mukmin membenci seorang Mukminah. Jika ia tidak suka satu perangainya maka (bisa jadi) ia ridha dengan perangainya yang lain,” (HR. Muslim).

Jika sifat istrimu yang tak kau suka itu melanggar syariat atau tidak baik di mata Islam maka kewajibanmulah memberinya pengertian. Ibnu Abbas berkata, “Berikanlah pengetahuan agama kepada mereka (istri dan anak) dan berikanlah pelajaran budi pekerti yang bagus kepada mereka…” Berusahalah memperbaiki akhlaknya dengan cara yang lembut. Dengan keteladanan. Dengan kasih sayang.

“Mintalah wasiat dari diri-diri kalian dalam masalah hak hak para wanita, karena sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Dan, yang paling bengkok dari tulang rusuk itu adalah bagian paling atasnya. Bila engkau paksakan untuk meluruskannya maka engkau akan mematahkannya. Namun, bila engkau biarkan, ia akan terus menerus bengkok. Maka, mintalah wasiat dari diri-diri kalian dalam masalah hak-hak para wanita.” (HR. Al-Bukhari)

Kelihatan menantang ya? Di situlah penghargaan itu. Bukankah gelar ‘yang terbaik’ adalah gelar luar biasa, yang untuk mendapatkannya perlu perjuangan nyata?

Kalau istri yang paling baik?

Senyum-senyum membaca dua cerita di atas? Nanti, kalau sudah menikah pasti semakin lebar senyumnya. Betapa banyak masalah sepele yang bisa menjadi awal pertengkaran dalam keluarga. Ini serius. Suka atau nggak, yang sudah berkeluarga pasti mengakui hal ini. Karenanya, buat para istri atau calon istri, ingat-ingatlah hadits Rasulullah ini.

Suatu hari, Rasulullah bertanya kepada sahabat sahabatnya, “Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian di dalam surga?” Para sahabat menjawab dengan semangat, “Tentu saja, wahai Rasulullaah!” Beliau kemudian menjelaskan, “Wanita yang penyayang dan subur. Apabila marah, diperlakukan buruk, atau suaminya marah kepadanya, ia berkata, “Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha,” (HR. Thabrani).

“Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha.”

Coba jadikan kalimat ini sebagai penawar bagi perilaku suami yang membuat kita kesal atau sedih. Coba gunakan resep ini untuk menyelesaikan masalah dengan suami kita. Sungguh, kesal dan sedih kita insya Allah akan ditutupi oleh Nya, masalah kita berdua insya Allah akan diselesaikan oleh Nya.

Saat seorang istri tidak menyukai sikap suaminya hingga ia terlibat perselisihan dengannya, hingga keluar kata-kata keras dari mulutnya, hingga ia lupa akan janji-janji dan cita-cita rumah tangganya, ingatlah kata-kata di atas. Datangilah kamar suamimu dan berkatalah kepadanya, “Suamiku, ulurkanlah tanganmu, biar kugenggam. Mataku ini tak bisa terpejam…”

Tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun, seorang suami akan luluh hatinya mendengar sang istri berkata demikian. Ia pun akan meminta maaf. Senyum kembali terlihat di wajah mereka, dan segala perselisihan pun reda seketika.

Keangkuhan apakah yang harus dipertahankan antara sepasang suami-istri? Sesungguhnya, wahai istri, permohonan maafmu kepada suami tidak akan mengurangi kehormatanmu, bahkan akan menambah kehormatanmu di depannya. Akan membuatmu semakin dicintainya. Permintaan maafmu itu, walau sebenarnya engkau tidak bersalah, insya Allah akan membuat suamimu malu terhadap dirinya sendiri dan membuatnya sadar untuk mengoreksi diri.

Para istri yang suci hatinya, sesekali saat suamimu terlelap, pandanglah wajahnya. Itulah wajah orang yang tak punya hubungan darah denganmu, tapi kini terus berusaha untuk mencintaimu.

Sesekali saat suamimu pulang kerja atau kembali dari tempat usahanya, pandanglah wajahnya. Cium tangannya. Itulah tangan yang bekerja keras mencari rezeki untuk memberi nafkah dirimu. Padahal, sebelum akad nikah, ia tak punya hutang budi sama sekali kepadamu. Sesekali saat kau sendiri, ingat-ingatlah wajahnya. Itulah wajah orang yang mungkin turut diseret ke neraka jika dirimu melakukan maksiat. Sebab, ia turut bertanggungjawab atas agama dan akhlakmu. Padahal, sebelumnya lelaki itu tak mengenalmu.

Sesekali saat kau berdua dengannya, lihatlah suamimu dengan tatapan sayang. Itulah pribadi yang boleh jadi selalu berusaha menutupi masalah-masalahnya diluar rumah, agar kau tak turut sedih karenanya. Ia berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri, agar kau tak ikut terbebani. Sementara, kau sering mengadukan masalahmu kepadanya, berharap ia mau mengerti dan memberi solusi. Padahal, bisa jadi saat itu masalahnya lebih besar daripada masalahmu. Namun, dirimu tetap diutamakannya.

Ingatkah doa yang dulu ia ucapkan saat pertama kali kalian salat bersama? Di malam pengantin itu, saat tangan suamimu gemetar memegang ubun-ubunmu, ia membaca, “Allahumma inni as`aluka khairaha wa khaira majabaltaha ‘alaihi wa a’udzu bika min syarriha wa min syarri ma jabaltaha ‘alaihi. Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiat yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa.”

Sudahkah kebaikan-kebaikanmu kau bawa untuknya?

Untuk para calon istri saleha, jadikan baktimu kepada suami sepenuh air di samudera, agar berbalas ridha dan cinta Sang Maha Pencipta. Ikhlaskan baktimu karena Allah, berusahalah dengan cara yang terbaik. Lakukanlah untuk mendapatkan ridha suamimu, agar Allah pun ridha terhadapmu.

“Jika seorang wanita menegakkan salat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadan, menjaga kesuciannya dan mematuhi suaminya maka akan dikatakan kepadanya (di Hari Pengadilan), ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu yang kamu sukai!’”(HR. Ahmad).


Like it? Share with your friends!

0
fawazid

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *